Festival Bercerita Asean dan Seminar Cerita Rakyat Asean 2008

Sejak awal berdirinya pada tahun 1988, KPBA selalu konsisten dalam misinya untuk mempromosikan minat membaca dan bacaan bermutu di Indonesia. Berbagai kegiatan telah diselenggarakan oleh KPBA baik dalam skala nasional maupun internasional. Diantaranya adalah festival bercerita setiap dua tahun dengan tema yang beragam untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bersentuhan langsung dengan kebudayaan (cerita rakyat).

Pada festival bercerita yang kedelapan dan sekaligus dalam rangka merayakan 20 tahun KPBA berkarya, KPBA bersama Indonesian Board on Books for Young People (INABBY) dan Bentara Budaya Jakarta (BBJ) didukung oleh PT. Excelcomindo Pratama Tbk., PT. Mayora Indah Tbk., PT. Summarecon Agung Tbk., PT. Toyota-Astra Motor, Yayasan Pelayanan Kasih A&A Rachmat, dan Yayasan Bhakti Tanoto menyelenggarakan Festival Bercerita Asean (31 Juli – 3 Agustus 2008) dan Seminar Cerita Rakyat Asean (4 Agustus 2008).

Acara bertaraf internasional ini baru pertamakalinya diselenggarakan di kawasan Asean untuk mempererat hubungan antar negara-negara Asean melalui kerjasama kebudayaan (cerita rakyat). Bacaan anak Asean dan cerita rakyat Asean dapat menjadi media bagi anak-anak dan orang dewasa untuk saling mengenal dan memahami keindahan juga keunikan budaya masing-masing negara Asean. Dengan begitu, bacaan anak dan cerita rakyat Asean dapat mendunia dan dikenal lebih luas baik di antara negara-negara Asean sendiri maupun dunia internasional. Tidak hanya partisipan dari negara-negara Asean, Jepang pun ikut berpartisipasi. Karenanya tema festival bercerita kali ini adalah “Stories for Everybody”.

Pembukaan

Acara pembukaan dilakukan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan R.I., Prof. DR. Meutia Hatta Swasono pada tanggal 31 Juli 2008, dihadiri oleh para duta besar dan perwakilan dari negara-negara sahabat, juga tamu-tamu undangan dari berbagai kalangan pendidik, penerbit, media massa, sponsor dan lain sebagainya.

Pada malam pembukaan, dipentaskan sepuluh pertunjukan dongeng cerita rakyat dari negara-negara Asean oleh Wajuppa Tossa (Thailand) – The King Who Makes Dream Come True, H. Pawi Tajuddin dan H Kifli (Brunei Darussalam) – Awang Darman, Wayang Gantung Singkawang (Indonesia) – Cerita Jenaka, Ai Minh (Vietnam) – Thanh Giong, Kongdeuane Nettavong (Laos) – Four Marvelous Brothers, Wayang Suket Solo (Indonesia) – Mengapa Tubuh Udang Bengkok, Izzah Abdul Aziz dan Hasniah Hussain (Malaysia) – Gagak yang Malang, Tim KPBA(Indonesia) – Kancil dan Kura-Kura, Carla Pacis (Filipina) – The Trickster Child, Chin Yahan (Kamboja) – Man Who Lives Near a Richman’s House and Smell His Food.

Festival Bercerita Asean

Festival bercerita Asean dimulai pada hari Jumat 1 Agustus 2008 dan berakhir pada hari Minggu 3 Agustus 2008. Setiap harinya terdiri dari dua sesi, yaitu sesi pagi (pukul 09.30 – 12.30 WIB) dan sesi siang (pukul 14.00 – 17.00 WIB). Pada setiap sesi diadakan Pentas Festival yaitu pertunjukan dongeng-dongeng Asean kemudian dilanjutkan dengan Program Anak yaitu workshop bagi anak-anak untuk belajar mendongeng dengan alat musik oleh Kongdeuane Nettavong (Laos), mendongeng dengan Power Point oleh H. Pawi Tajuddin dan H. Kifli (Brunei Darussalam), belajar membuat wayang rumput oleh Tim Wayang Suket Solo (Indonesia), mendongeng dengan teka-teki, tarian, nyanyian oleh Wajuppa Tossa (Thailand), belajar membuat ilustrasi oleh Pak Raden (Indonesia), juga oleh Yusof Gajah (Malaysia), belajar membuat puisi oleh Genevieve Asenjo (Filipina), belajar memainkan wayang gantung oleh Tim Wayang Gantung Singkawang (Indonesia), belajar membuat alat peraga dongeng oleh Yoshimi Hori (Jepang), Erikawati (Indonesia), Carla Pacis (Filipina), belajar mendongeng oleh Kak Agus Rakhman dan Tety Elida (Indonesia), tidak ketinggalan belajar mengedit cerita oleh Izzah Abdul Aziz (Malaysia) dan menulis kreatif oleh Chin Yahan (Kamboja).

Terlihat jelas antusiasme anak-anak, orang tua, guru, mahasiswa dan berbagai kalangan lainnya terhadap acara ini. Setiap harinya tidak kurang dari delapan kali pementasan digelar dan lebih dari dua ratus penonton memadati Hall Utama BBJ untuk menyaksikan Pentas Festival baik pada sesi pagi maupun sesi siang. Pada pementasan yang menampilkan pendongeng tamu berbahasa asing, selalu didampingi oleh anggota KPBA yang sudah terlatih menjadi pendongeng tandem sambil menerjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Sebut saja Kak Agus Rakhman yang sudah berpengalaman dalam mendampingi pendongeng-pendongeng tamu dalam festival-festival bercerita sebelumnya. Walaupun begitu, selalu saja ada pengalaman baru yang dapat memperkaya diri para pendongeng pendamping. Salah satu pengalaman yang dialami oleh Kak Agus antara lain ketika mendampingi Kongdeuane Nettavong dari Laos yang mendongeng dengan menggunakan alat musik, Kak Agus terdorong untuk mengeksplorasi lebih jauh kemampuan mendongengnya dengan juga membawa alat musik gendang ke atas panggung.

Lain lagi pengalaman Devina, salah seorang anggota KPBA yang juga telah berpengalaman dalam mendampingi pendongeng tamu. Devina yang telah terbiasa mendampingi pendongeng tamu yang penuih ekspresi, kali ini harus mendampingi beberapa pendongeng yang mula-mula kurang ekspresif. Tentu awalnya sulit dan kaku bagi Devina ketika berdiri di atas panggung, namun akhirnya Devina dapat mendampingi gaya pendongeng tersebut sekaligus menemukan cara untuk membuat pentas tersebut leibh meriah. Antara lain dengan mengajak anak-anak untuk turut bernyanyi dan menari bersama.

Tidak hanya mendampingi pendongeng tamu, Tim KPBA juga tampil dalam pentas festival. Mereka mementaskan cerita rakyat Kalimantan Barat berjudul ‘Kancil dan Kura-kura’ yang diangkat dari salah satu buku cerita rakyat terbitan KPBA. Pementasan diiringi dengan musik dan nyanyian yang dikreasikan oleh Tim KPBA sendiri. Kekompakan dan kreativitas Tim KPBA dalam mementaskan cerita rakyat ke dalam bentuk story theater mendapatkan banyak pujian dan respon positif dari para pendongeng tamu, media massa, penonton dewasa maupun anak-anak ditandai dengan derai tawa mereka ketika menyaksikan pertunjukan.
Setelah menyaksikan Pentas Festival, dilanjutkan dengan Program Anak. Anak-anak, orang tua dan guru menyebar ke dalam kelas-kelas workshop yang sudah diatur oleh pihak penyelenggara. Jadwal workshop pun bervariasi setiap harinya sehingga anak-anak dapat mengikuti berbagai macam aktivitas.
Setiap kelas workshop menyajikan materi-materi pembelajaran yang menarik tentang mendongeng, menulis alat peraga dongeng, membuat ilustrasi, dan sebagainya. Namun di antara semua kelas, ada beberapa kelas yang cukup unik, misalnya belajar memainkan Wayang Gantung Singkawang dan belajar membuat Wayang Rumput.

Anak-anak diperlihatkan lebih dekat cara memainkan Wayang Gantung yang tinggal satu-satunya di Indonesia itu. Boneka-bonekanya yang sudah berumur ratusan tahun, telah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Merupakan pengalaman yang berharga bagi anak-anak untuk dapat bersentuhan langsung dengan kebudayaan bangsa yang tidak mereka ketahui sebelumnya dan bahkan hampir punah.

Anak-anak juga diajarkan bagaimana membuat Wayang Rumput, sesuatu yang belum banyak diketahui orang apalagi oleh anak-anak. Kebanyakan dari kita mengenal wayang dalam bentuk Wayang Kulit dan Wayang Golek. Pada workshop ini, anak-anak yang telah menyaksikan pementasan Wayang Rumput berjudul “Mengapa Tubuh Udang Bengkok” dapat melihat sendiri dan mempelajari pembuatan wayang dari rumput.

Seminar Cerita Rakyat Asean

Pada hari Senin, 4 Agustus 2008 diselenggarakan Seminar Cerita Rakyat dengan tema “The Role of Folktales in Educating Children” yang dibuka oleh Bapak Dr. Ekodjatmiko Sukarso, Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Peserta seminar berasal dari berbagai kalangan, antara lain orang tua, guru, dosen, ilustrator, editor, pendongeng, dan lain sebagainya.
Sebanyak dua belas pembicara ahli dari kalangan peneliti, doktor, editor, sarjana bergelar master, ilustrator, direktur perpustakaan nasional, pendongeng, dan lain sebagainya membentangkan kertas kerja sesuai dengan keahlian masing-masing. Chin Yahan, MA (Kamboja) – The Role of Folktales in Educating Children, Dr. Murti Bunanta – Cerita Rakyat: dari Gender sampai Protein, sebuah Tantangan, Yusof Gajah (Malaysia) – Writing and Illustrating Children’s Picture Book: My Experience, Associate Professor Dr. Wajuppa Tossa (Thailand) – Folktales and Storytelling to Nurture Language and Culture, Izzah Abdul Aziz, MA (Malaysia) – The Role of Publishers in Promoting Folktales: The Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia Experience, Genevieve Asenjo, Ph.D (Filipina) – Re-educating the Imagination Through Follklore, Assistant Professor Carla Pacis, MA (Filipina) – Dancing to the Tale: The Relationship between Fiestas adn Folk Literature in Philippines, Sachiko Watanabe, M.Lib (Jepang) – Communication Through Folktales, Kongdeuane Nettavong (Laos) – Folktales and Reading Promotion, H. Pawi Tajuddin (Brunei Darussalam) – Kedudukan dan Penyampaian Cerita Rakyat Brunei, Ariobimo Nusantara (Indonesia) – Peran Penerbit dalam Mempromosikan Cerita Rakyat: Penerbit Grasindo, Gaisuhardja, Ph.D (Indonesia) – Ilustrasi Pada Buku Dongeng Anak.
Seminar sehari yang semula dijadwalkan mulai pada pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.00 WIB ini, berakhir pada pukul 17.00 WIB karena banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta kepada para nara sumber. Seminar diakhiri dengan pembagian sertifikat, tidak sedikit dari peserta seminar yang hadir meminta kami untuk menggelar lebih banyak kegiatan seminar dan workshop seperti ini. Hal tersebut membuat kami semakin bersemangat untuk terus berkarya dan konsisten dalam misi kami untuk mempromosikan minat membaca dan bacaan bermutu di Indonesia.

 
  • August 4, 2008
  • News

Comments are closed.


×


×