Pelatihan Guru-guru PAUD Parung oleh Tim KPBA

Kali ini KPBA diundang untuk memberi materi pemanfaatan buku untuk guru-guru PAUD (Pendidikan Usia Dini) di sebuah kota pinggiran Jakarta; Parung. Anggota yang dikirimkan sebanyak 6 orang, yaitu Agus, Ida Farida, Rika, Hori, Rian dan Devina.

Acara dibuka dengan perkenalan KPBA yang dibawakan oleh Agus, kemudian dilanjutkan dengan membawakan makalah Hori tentang manfaat buku bergambar. Karena kesulitan bahasa, makalah Hori dibawakan oleh Ida Farida. Ditengah-tengah materi kami juga mencontohkan cara membacakan buku kepada peserta secara pendek. Hori juga sudah menyarikan makalahnya ke dalam bentuk booklet yang siap dibagikan setelah acara. Setelah materi dibawakan, kami membawakan cerita Sapi yang sudah kami siapkan sebelumnya. Cerita ini menjadi meriah ketika Agus menempelkan gambar sayur-sayuran yang akan dimakan Sapi di bagian-bagian tubuh secara acak yang mengundang tawa, seperti perut dan tangan. Lalu sayur-sayur tersebut ditempelkan di depan gambar Sapi yang telah kami buat di papan tulis, serta warna-warna yang sesuai warna sayuran ditempel di bagian perut sapi. Setelah cerita lalu kami meminta peserta, yang kami pura-purakan sebagai para murid, untuk maju ke depan dan mencoba mengingat urutan yang dimakan si sapi dan warna sayurannya. Hal ini bisa digunakan guru untuk mengenalkan warna, sayuran juga melatih ingatan para murid.

Berlanjut ke cerita berikutnya adalah cerita gambar “99 Cent” yang dibawakan Rika. Peserta cukup surprise ketika pada bagian akhir Rika membalikkan kertas dan nampaklah gambar seorang ibu. Suasana kembali menjadi meriah ketika satu peserta mencoba mempraktekan cerita itu lagi. Pengalamannya sebagai guru sangat terlihat ketika ia begitu terampil menghidupkan cerita dan memeriahkan suasana. Improvisasi ceritanya juga segar namun tidak keluar dari inti cerita. Para peserta, dan kami juga merasa terhibur melihatnya bercerita.

Cerita selanjutnya adalah cerita kelinci yang menggunakan kertas lipat yang dibawakan oleh Devina. Di sini kami juga membagikan kertas lipat tersebut untuk latihan peserta. Satu peserta kami ajak kedepan untuk mempraktekkannya lagi. Karena peserta yang ini malu-malu dan beralasan tidak hapal ceritanya, maka kami meminta semua peserta yang membawakan cerita dan peserta tadi yang melipat kertasnya.

Cerita terakhir yang kami bawakan adalah cerita Tarian Pengusir Ular yang dibawakan oleh Devina dan Rika. Tujuan kami memilih cerita ini adalah untuk mencontohkan salah satu bercerita dengan mengikutkan partisipasi pendengarnya. Tujuh orang peserta kami undang ke depan memerankan ayah dan ibu katak, dua ekor burung, serta tiga ekor kera. Alhasil suasana pelatihan menjadi lebih ramai lagi. Apalagi kemudian Agus membagi seluruh peserta menjadi empat kelompok yang menyuarakan masing-masing binatang, Ruangan menjadi lebih bergema, dan tentu saja mampu mengusir ular dengan suara seramai itu. Cerita Tarian Pengusir Ular tadi menjadi penutup materi kami yang cukup meriah.

 
  • March 30, 2009
  • News

Comments are closed.


×


×